Tcm Surabaya. (30 Desember 2025),- Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), KH Chriswanto Santoso, melontarkan peringatan keras menjelang pergantian tahun 2026. Ia menegaskan, demokrasi Indonesia berpotensi dibajak oleh kekuatan oligarki jika negara tidak hadir secara kuat dan berpihak pada keadilan sosial.
Menurut Chriswanto, sebagai negara demokrasi dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim, Indonesia tidak lepas dari residu demokrasi berupa menguatnya kelompok-kelompok kepentingan. Dalam praktiknya, demokrasi dapat membuka ruang bagi segelintir elite bermodal besar untuk menguasai sumber daya dan memengaruhi kebijakan publik.
“Dalam demokrasi sangat mungkin sekelompok kecil orang menguasai sebagian besar masyarakat dan sumber daya melalui praktik oligopoli. Negara tidak boleh kalah oleh investor,” tegas Chriswanto saat menyampaikan refleksi akhir tahun di Surabaya.
Ia mencontohkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Rusia yang tumbuh bersama konglomerasi besar. Namun, kata dia, negara-negara tersebut tetap memiliki pemerintahan kuat yang mampu mengendalikan modal agar tidak mengorbankan kepentingan rakyat.
Chriswanto juga menyoroti persoalan lingkungan hidup yang kian mengkhawatirkan akibat investasi yang tidak terkendali. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI tahun 2024, sekitar 175 ribu hektare hutan Indonesia tercatat mengalami deforestasi, yang sebagian besar beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan kawasan tambang.
“Kerusakan lingkungan ini adalah pekerjaan rumah besar negara. Jika dibiarkan, dampaknya bukan hanya ekologis, tapi juga sosial dan moral,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat banyak peradaban besar dunia runtuh bukan karena kalah perang, melainkan akibat kemerosotan moral. Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani, Romawi, hingga Persia menjadi contoh peradaban maju yang akhirnya tinggal puing-puing sejarah.
“Mereka memiliki teknologi yang melampaui zamannya, tapi kerusakan moral menghancurkan segalanya. Ini harus menjadi pelajaran serius bagi Indonesia,” kata Chriswanto.
Berbagai persoalan kebangsaan tersebut, menurutnya, akan menjadi agenda utama dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) X LDII yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026. LDII berencana menyusun rekomendasi strategis bagi pemerintah terkait tantangan sosial, politik, dan lingkungan yang dihadapi bangsa.
Di sisi lain, LDII menaruh perhatian besar pada pembinaan generasi muda sebagai fondasi peradaban masa depan. Chriswanto menilai, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika diiringi dengan pembangunan karakter dan moral.
Sebagai upaya konkret, LDII secara konsisten menggelar Pengajian Akhir Tahun sejak pertengahan 1990-an. Kegiatan ini diarahkan untuk menjauhkan generasi muda dari budaya hura-hura, konsumtif, dan hedonik yang kerap mengiringi malam pergantian tahun.
“Tahun ini kami bahkan mengimbau generasi muda untuk menanam pohon di sekitar lokasi pengajian. Ini simbol kepedulian moral dan ekologis,” ujarnya.
LDII berharap langkah-langkah tersebut mampu mencetak generasi yang religius, berakhlak mulia, mandiri, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi ikhtiar membangun benteng moral bangsa,” pungkas Chriswanto.
Tcm Muslimin/Tcm Ridho