Ticker

6/recent/ticker-posts

Bupati Bantaeng Kocok Total Jabatan Elit dan Mesin Birokrasi Dipanaskan, Target Layanan Publik dan Pembangunan Digeber Tanpa Ampun




TCM BANTAENG.,- Pemerintahan Kabupaten Bantaeng memasuki babak baru. Bupati Bantaeng M. Fathul Fauzy Nurdin melakukan kocok ulang jabatan strategis tingkat elit, menandai keseriusan penuh untuk memanaskan mesin birokrasi yang dinilai harus berlari lebih cepat, lebih tajam, dan lebih responsif terhadap tuntutan publik.
Didampingi Wakil Bupati H. Sahabuddin dan Sekretaris Daerah H. Abdul Wahab, Bupati secara langsung melantik dan mengambil sumpah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Rumah Jabatan Bupati Bantaeng, Jumat (9/1/2026).


Pelantikan ini menjadi sinyal keras bahwa tidak ada ruang bagi birokrasi yang lamban, nyaman, dan setengah hati.
Sejumlah kursi panas jabatan strategis resmi berpindah tangan. Riswan Abadi digeser dari posisi Asisten Administrasi Umum ke jabatan Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan, peran vital dalam mengawal arah kebijakan ekonomi daerah.


Asruddin, figur perencana pembangunan daerah, ditarik ke posisi kunci sebagai Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, sektor yang bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat.
Perombakan tajam juga menyasar sektor unggulan. Budi Taufik, yang sebelumnya memimpin Dinas Perikanan dan Kelautan, kini dipercaya mengendalikan Dinas Pariwisata, sektor yang digadang-gadang menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Bantaeng.



Sementara Mahyudin didorong memimpin Dinas Pertanian, tulang punggung ketahanan pangan daerah.
Tak kalah strategis, Fiqih Seftiriyanti resmi menakhodai Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, sektor fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia.


Dalam sambutannya yang bernada tegas, Bupati Bantaeng menegaskan bahwa mutasi dan pelantikan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah sadar untuk memastikan birokrasi bekerja sesuai kebutuhan rakyat, bukan sekadar rutinitas kantor.
“Jabatan adalah amanah dan tanggung jawab besar. Ini momentum pembuktian. Saya ingin birokrasi yang bekerja cepat, berpikir tajam, dan hadir nyata untuk masyarakat,” tegas Fathul Fauzy Nurdin.


Ia menekankan bahwa seluruh pejabat yang dilantik harus menjadi penggerak perubahan, bukan penonton. Target besar “Bantaeng Bangkit, Maju, dan Religius” disebutnya tidak akan tercapai tanpa keberanian mengambil keputusan dan loyalitas penuh pada kepentingan publik.


Pelantikan ini sekaligus dibaca sebagai peringatan dini bagi seluruh jajaran birokrasi: evaluasi akan terus berjalan, dan kinerja menjadi satu-satunya ukuran. Pemerintah Kabupaten Bantaeng menegaskan, era kerja biasa-biasa saja telah berakhir.



Dengan formasi baru ini, publik kini menunggu satu hal yaitu hasil nyata di lapangan. Apakah perombakan elit ini benar-benar melahirkan lompatan pelayanan dan pembangunan, atau sekadar rotasi jabatan belaka? Waktu akan menjawab.


Tcm Suarni/Tcm Rifai