TCM SURAKARTA — Kota Solo pada Senin pagi mendadak terasa berbeda. Ratusan personel Senkom Mitra Polri tampak memenuhi titik-titik jalur utama, bersiaga penuh untuk satu misi yang sarat penghormatan: mengawal jenazah Hj. Gar’ah Baraba, istri tercinta KH. M. Thoyibun, pimpinan tiga pesantren besar di Solo Raya.
Kepergian sosok ibu yang dikenal lembut dan bersahaja ini bukan hanya mengguncang keluarga besar pesantren, tetapi juga menggerakkan solidaritas luar biasa lintas kabupaten. Senkom Surakarta dan Sukoharjo kompak menurunkan kekuatan penuh, diperkuat dengan Satuan Patwal Polresta Surakarta. Jalur sejauh hampir 50 kilometer menuju Ponpes Ahlul Qur’an Thoyibah, Weru, Sukoharjo, berubah menjadi lintasan penuh penghormatan dan kesungguhan.
Ketua Senkom Kota Surakarta, H. Yusuf Erwansyah, mengungkapkan bahwa seluruh anggota diturunkan dengan SOP ketat.
“Ini bukan sekadar tugas. Ini bentuk penghormatan terakhir kami. Semua harus berjalan tertib, aman, dan penuh adab,” tegasnya.
Sejak rombongan jenazah diberangkatkan dari Ponpes Modern Budi Utomo, barisan pengawalan tampak rapi dan terorganisir. Personel Senkom dan Polantas menjaga setiap simpang padat, mengatur ritme perjalanan, hingga melakukan komunikasi radio nonstop untuk memastikan semua titik pengamanan sinkron.
Ketua Senkom Sukoharjo, H. Sarwiyanto, memastikan komunikasi antarwilayah berlangsung mulus tanpa satu pun gangguan.
Wali Kota Surakarta Turut Hadir: “Beliau Ibu bagi Kami Semua”
Momen haru semakin terasa saat Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, beserta jajaran Forkopimda, hadir memberi penghormatan terakhir.
Menurutnya bahwa dirinya pribadi sangat kehilangan. Beliau adalah sosok ibu bagi masyarakat. Sederhana, lembut, dan penuh teladan, ungkap Wali Kota usai salat jenazah.
Kehadiran pimpinan daerah menunjukkan betapa besar pengaruh keluarga KH. M. Thoyibun bagi masyarakat Solo Raya.
Setibanya di Pesantren Thoyibah, Senkom Sukoharjo melanjutkan pengaturan lalu lintas dan pengamanan area pesantren. Semua berjalan lancar hingga prosesi pemakaman selesai tanpa hambatan sekecil apa pun.
H. Yusuf menyampaikan rasa terima kasihnya, “Semoga semua yang terlibat mendapat keberkahan. Ini penghormatan bagi almarhumah dan keluarga.”
Putra-putri almarhumah mulai dari Akmaludin Akbar, Hafidz Al Mubarok, Muhammad Zain, dan Faiz Sulthon Auliya, menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat dan aparat.
Prosesi pemakaman yang tertib, khidmat, dan penuh kebersamaan ini menjadi bukti bahwa solidaritas, gotong royong, dan rasa hormat masih hidup kuat di tengah masyarakat, terutama dalam momen paling berharga: melepas kepergian sosok ibu yang dicintai banyak orang.
Tcm Ridho/Tcm Sdj