Ticker

6/recent/ticker-posts

Pesan Singkat Padat dan Jelas dari Bupati Gowa,! Indonesia Emas 2045 Mustahil Lahir Jika Perempuan Dipinggirkan




TCM GOWA.,- Pernyataan keras menggema dari Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa. Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang secara terbuka “menggebrak meja sejarah”, menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 hanyalah ilusi jika peran perempuan terus diremehkan dan dipinggirkan dari pusat pembangunan bangsa.


Pernyataan tajam itu disampaikan Bupati Gowa saat menghadiri Puncak Peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan (DWP) ke-26 dan Hari Ibu ke-97 Tingkat Kabupaten Gowa, Senin (29/12), didampingi Sekretaris Daerah Andy Azis.
“Fondasi bangsa ada di rumah. Jika perempuan kuat, bangsa berdiri. Jika perempuan diabaikan, negara sedang menyiapkan kehancurannya sendiri,” tegas Bupati Gowa dengan nada menekan.


Menurutnya, perempuan bukan simbol pelengkap seremoni, melainkan mesin utama pencetak sumber daya manusia unggul. Empati, kesabaran, kecerdasan emosional, kreativitas, hingga kepedulian terhadap kesehatan keluarga disebutnya sebagai kekuatan strategis yang tak tergantikan oleh teknologi dan kebijakan apa pun.



Bupati Gowa bahkan menegaskan, Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari rapat-rapat elite, melainkan dari rahim keluarga yang kuat, dan itu digerakkan oleh perempuan.


Momentum Hari Ibu dimanfaatkan Bupati Gowa untuk menyampaikan penghormatan sekaligus peringatan bahwa peran ibu selama ini kerap dianggap biasa, padahal sejatinya adalah pilar utama ketahanan bangsa. Dalam pidato yang sarat tekanan moral, ia juga menyoroti peran Dharma Wanita Persatuan (DWP) sebagai kekuatan senyap yang menopang stabilitas birokrasi dan kepedulian sosial.
“Jika para ibu kompak, SKPD akan kompak. Jika Dharma Wanita bergerak, pemerintahan tak akan pincang,” ujarnya lugas.


Sementara itu, Ketua DWP Kabupaten Gowa, Suryanti Andy Azis, menegaskan bahwa peringatan HUT DWP bukan panggung formalitas, melainkan alarm keras bagi bangsa agar tidak gagal menyiapkan generasi masa depan.
“Indonesia Emas bukan hasil proses instan. Ia lahir dari keluarga yang menerapkan Asih, Asuh, dan Asah. Tanpa itu, mimpi 2045 hanyalah slogan kosong,” tegasnya.


Pernyataan serupa disampaikan Ketua Pelaksana Adriana Djamaluddin, yang menegaskan tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045” bukan sekadar jargon, melainkan seruan perlawanan terhadap marginalisasi peran perempuan.
“Apa yang kita abaikan hari ini akan menjadi krisis bangsa dua dekade ke depan,” katanya.



Acara yang dihadiri Ketua DWP Sulsel Melani Simon Jufri, Kepala BPSDM Sulsel Muhammad Jufri, serta sekitar 200 peserta lintas SKPD dan organisasi perempuan ini menjadi tamparan keras bagi paradigma pembangunan yang masih maskulin dan elitis.


Pesan yang mengemuka jelas dan tak terbantahkan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak ditentukan oleh pidato elite, tetapi oleh ketangguhan perempuan hari ini. Mengabaikan perempuan sama dengan mengkhianati masa depan bangsa tutupnya

Tcm Suaib/Tcm Salma