TCM JOMBANG., - Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menutup tahun 2025 dengan pernyataan keras yang mengguncang ruang publik nasional. Di tengah meningkatnya infiltrasi paham intoleran dan ideologi transnasional, PNIB menegaskan satu sikap tegas: Indonesia tidak boleh kalah di kandang sendiri.
Dalam refleksi akhir tahun, PNIB menyebut intoleransi, khilafah, dan terorisme sebagai ancaman laten paling berbahaya bagi keutuhan NKRI, karena bekerja diam-diam melalui ruang sosial, pendidikan, budaya, hingga rumah ibadah.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menegaskan bahwa sepanjang 2025 PNIB bergerak tanpa gaduh senjata, namun konsisten memukul ideologi pemecah bangsa dengan kekuatan toleransi dan Pancasila.
“Tahun 2025 adalah bukti bahwa perlawanan damai bisa lebih mematikan bagi ekstremisme dibanding kekerasan. PNIB hadir bukan untuk basa-basi, tetapi menjaga Indonesia tetap berdiri di atas Merah Putih dan Pancasila,” tegas Gus Wal.
INTOLERANSI: BOM WAKTU PERPECAHAN BANGSA.
Gus Wal menyebut intoleransi sebagai hulu dari radikalisme, separatisme, dan terorisme. Jika dibiarkan tumbuh, intoleransi akan menjadi bom waktu yang menghancurkan Indonesia dari dalam.
“Intoleransi bukan sekadar perbedaan pendapat, tapi pintu masuk ideologi khilafah dan terorisme. Kalau negara lengah, bangsa ini bisa terpecah tanpa perang,” ujarnya.
Atas dasar itu, PNIB secara terbuka mendesak negara menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional, sebagai bentuk perlawanan ideologis terhadap ekstremisme.
R I Y A N T O ADALAH PAHLAWAN TOLERANSI YANG DILUPAKAN NEGARA
Dalam pernyataan yang paling menyentak, PNIB menyoroti pengabaian negara terhadap pejuang toleransi, khususnya Riyanto, anggota Banser yang gugur demi melindungi umat agama lain.
“Riyanto mati bukan karena salah sasaran, tapi karena kesadaran kemanusiaan. Negara sering sibuk mengagungkan elite, tapi lupa pada rakyat biasa yang mati demi toleransi. Ini ironi besar bangsa,” kata Gus Wal. PNIB menyatakan akan terus menekan negara agar Riyanto diakui sebagai Pahlawan Toleransi Nasional.
APRESIASI DENSUS 88 BAHWA TRIPLE ZERO ATTACK BUKTI NEGARA HADIR
Di tengah kritik terhadap intoleransi, PNIB memberi penghormatan terbuka kepada Densus 88 AT Polri. Menurut PNIB, pendekatan persuasif dan humanis aparat menjadi kunci Indonesia mencatat Triple Zero Attack karena tiga tahun berturut-turut tanpa serangan teror.
“Zero Attack bukan kebetulan. Ini buah kerja senyap aparat yang sering dihujat tapi jarang diapresiasi. PNIB berdiri di barisan yang objektif,” tegas Gus Wal.
Tahun 2026 PNIB JANJI TURUN LEBIH JAUH, LEBIH DALAM
Menatap baru, PNIB menyatakan tidak akan melunak. Agenda kebangsaan akan diperluas, termasuk respons kemanusiaan di wilayah bencana dan daerah pinggiran.
“Korban bencana bukan sekadar angka statistik. Mereka butuh kehadiran negara dan rakyat. Toleransi bukan jargon, tapi tindakan. Diam berarti ikut bersalah,” pungkas Gus Wal.
Tcm Gus/Tcm Sdj