TCM JOMBANG.,- Menyambut Hari Lahir (Harlah) ke-40 Pagar Nusa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pagar Nusa Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang tidak memilih jalan seremonial biasa. Mereka justru turun langsung menapak jejak sejarah, menyusuri makam para Muassis Nahdlatul Ulama, dalam sebuah gerakan spiritual bertajuk Napak Tilas NU, Sabtu (3/1/2026).
Aksi ini bukan sekadar ziarah, melainkan pernyataan sikap ideologis dan kultural: Pagar Nusa berdiri tegak di garis perjuangan ulama, santri, dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Napak tilas diawali dari makam KH Romli Tamim, ulama besar NU, penyusun Istighotsah Nahdlatul Ulama, sekaligus Muassis Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan. Lokasi ini sarat makna, mengingat UNIPDU lahir dan tumbuh dari rahim pesantren Darul Ulum, sebuah pusat kaderisasi ulama dan pejuang NU.
Perjalanan spiritual kemudian berlanjut ke makam Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, pendiri NU dan peletak fondasi Islam Nusantara. Dari Tebuireng, rombongan bergerak ke Denanyar untuk berziarah ke makam KH Bisri Syansuri, sebelum menutup rangkaian napak tilas di Tambakberas, makam KH Wahab Chasbullah, sang penggerak, konseptor, dan orator besar NU.
Pendiri UKM Pagar Nusa UNIPDU Jombang, Muhammad Arief Ar-Rosyid, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah ikhtiar ideologis, bukan rutinitas kosong.
“Ini bukan ziarah biasa. Ini adalah proses menanamkan cinta, ta’dhim, dan kesadaran sejarah kepada kader. Dari para Muassis NU inilah kita belajar keikhlasan, militansi, dan keteguhan berjuang demi agama dan bangsa,” tegas Arief.
Ia juga mengaitkan kegiatan ini dengan dawuh Ketua Umum Pagar Nusa, Gus Nabil Haroen, yang menekankan pentingnya tradisi sowan bagi kader.
“Santri Pagar Nusa harus sowan kepada kiai. Kami mengamalkan dawuh itu bukan hanya dengan sowan, tapi juga berziarah, agar ruh perjuangan para Muassis NU terus hidup dan mengalir dalam darah kader Pagar Nusa,” tambahnya.
Napak Tilas NU ini menjadi penegasan jati diri UKM Pagar Nusa UNIPDU Jombang: membangun kekuatan fisik, mental, dan spiritual yang berpijak pada sanad ulama, tradisi pesantren, dan khidmah tanpa pamrih.
Di usia 40 tahun, Pagar Nusa tak sekadar bertambah umur akan tetapi mempertegas arah perjuangan untuk menjaga warisan ulama, mengawal NKRI, dan terus berdiri di barisan terdepan Islam rahmatan lil ‘alamin.
Tcm Gus/Tcm Sdj