TCM PONOROGO., - Di tengah derasnya arus sekularisme, relativisme, dan dekonstruksi pemikiran agama yang kian agresif menyasar generasi Muslim, satu nama tampil kokoh sebagai penjaga garis depan akidah Islam Indonesia: Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi.
Putra langsung pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Imam Zarkasyi, ini bukan sekadar pewaris estafet pesantren. Ia adalah arsitek pemikiran Ilmu Kalam kontemporer yang secara tegas menolak reduksi akidah menjadi sekadar kajian historis-psikologis tanpa ruh keimanan.
Sebagai Rektor pertama Universitas Darussalam Gontor (2014–2020) dan kini Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Amal Fathullah Zarkasyi berdiri di garis terdepan menghadapi tantangan pemikiran modern yang, menurutnya, kerap “merobohkan struktur kebenaran agama dari dalam”.
“Ilmu Kalam bukan museum pemikiran klasik. Ia adalah benteng hidup untuk melindungi akidah dari syubhat dan kebohongan zaman,” tegasnya dalam berbagai forum ilmiah.
Ilmu Kalam vs Pemikiran Liberal
Berbeda dari arus akademik modern yang cenderung mendekonstruksi akidah Islam atas nama pendekatan historis dan antropologis, Amal justru mengembalikan Ilmu Kalam pada fungsi asalnya: pengukuhan kebenaran tauhid, kenabian, dan hari pembalasan.
Ia menegaskan, pergeseran studi akidah yang terlalu kompromistis justru berpotensi mengaburkan batas kebenaran dan membuka ruang bagi penyangkalan agama secara sistematis.
Dengan dua senjata utama metode filsafat dan metode ilmiah. Amal membangun kerangka Ilmu Kalam yang rasional, objektif, namun berdiri tegak di atas epistemologi Islam, bebas dari skeptisisme dan sekularisme Barat.
Gontor, Tauhid, dan Masa Depan Pendidikan Islam
Tak hanya di ranah teori, Amal Fathullah Zarkasyi juga dikenal sebagai motor penggerak pendidikan mu’allimin sebagai model integrasi ilmu agama dan umum yang kini menjadi rujukan nasional bagi pesantren mu’adalah.
Sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah, ia berperan strategis mengawal implementasi UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, memastikan pesantren tetap mandiri secara epistemologis, bukan sekadar mengikuti arus kebijakan teknokratis.
Ulama, Intelektual, dan Penentu Arah
Dengan rekam jejak akademik lintas negara mulai dari Mesir hingga Malaysia serta puluhan forum internasional, Amal Fathullah Zarkasyi bukan hanya figur pesantren, melainkan penentu arah pemikiran Islam Indonesia di abad ke-21.
Di saat banyak intelektual Muslim terjebak dalam euforia “pembaruan” tanpa batas, Amal memilih jalan sunyi namun tegas: tajdid tanpa menanggalkan tauhid.
Dari Gontor, suara itu menggema bahwa akidah bukan untuk dinegosiasikan.
Tcm Ridho/Tcm Bintang