Tcm Jakarta., - Musyawarah Nasional (Munas) VI PERSINAS ASAD 2026 menjadi penanda babak baru kepemimpinan pencak silat nasional. Secara bulat dan tanpa perlawanan, H. Sukur terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PERSINAS ASAD masa bakti 2026–2031. Keputusan ini sekaligus menegaskan soliditas internal organisasi serta kepercayaan penuh seluruh pengurus provinsi terhadap figur kepemimpinan baru.
Munas yang digelar di Gedung Serbaguna Minhajurrosidin, Jakarta Timur, itu dibuka resmi Ketua Harian PB IPSI, Benny Gautama Sumarsono, mewakili Ketua Umum PB IPSI. Hadir pula Asisten Deputi Kemenpora Khairil Adha, perwakilan perguruan pencak silat nasional, hingga delegasi PERSINAS ASAD dari berbagai daerah dan luar negeri, menegaskan posisi strategis PERSINAS ASAD dalam ekosistem olahraga nasional.
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Papua Barat secara tegas menyampaikan dukungan dan apresiasi atas terpilihnya H. Sukur. Ketua LDII Papua Barat, Drs. H. Suroto, menilai kepemimpinan baru ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat peran pencak silat bukan hanya sebagai cabang olahraga prestasi, tetapi juga sebagai instrumen pembinaan karakter bangsa.
“PERSINAS ASAD telah membuktikan diri bukan sekadar melahirkan juara, tetapi membentuk pendekar berkarakter: sehat jasmani, tangguh mental, sportif, dan berakhlak. Ini yang sangat relevan di tengah krisis karakter generasi muda hari ini,” tegas Suroto.
LDII Papua Barat juga menyampaikan penghargaan tinggi kepada H. Agus Susarso yang telah menakhodai PERSINAS ASAD selama beberapa periode. Di bawah kepemimpinannya, PERSINAS ASAD menjelma sebagai kekuatan pembinaan akar rumput yang konsisten melahirkan pesilat berprestasi dari level daerah hingga internasional, termasuk PON, Kejurnas, SEA Games, ASEAN Games, dan Kejuaraan Dunia.
Sinergi strategis LDII dan PERSINAS ASAD diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani pada Rakernas PERSINAS ASAD 2022. Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menegaskan kerja sama tersebut merupakan implementasi nyata pembangunan SDM profesional religius, salah satu agenda prioritas nasional LDII.
“Pembangunan karakter tidak cukup di ruang kelas. Nilai disiplin, sportivitas, daya juang, dan pengendalian diri justru ditempa di arena latihan dan pertandingan. Pencak silat menjadi medium yang sangat efektif,” ujar KH Chriswanto.
Suroto menambahkan, di tengah maraknya perundungan, tawuran, hingga degradasi sportivitas dalam olahraga, pencak silat menawarkan solusi konkret. “Di sinilah generasi muda diajarkan kalah dengan terhormat, menang tanpa jumawa, dan hidup dengan etika. Ini investasi jangka panjang bagi bangsa,” katanya.
LDII Papua Barat berharap, di bawah kepemimpinan H. Sukur, PERSINAS ASAD mampu melanjutkan sekaligus memperluas program pembinaan karakter, memperkuat sinergi dengan LDII, serta menjaga marwah pencak silat sebagai warisan budaya yang relevan dengan tantangan zaman.
Tcm Muslimin/Tcm Ridho