Ticker

6/recent/ticker-posts

"Menggempur Malam Seribu Bulan" I’tikaf Total Warga LDII, Gerakan Sunyi yang Menggetarkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan



Tcm Papua Barat.,- Sepuluh malam terakhir Ramadan bukan sekadar penutup, tetapi puncak pertarungan spiritual. Di momen inilah, warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) bergerak serentak, menghidupkan masjid dengan i’tikaf, ini sebuah ibadah sunyi yang justru memancarkan gema kekuatan luar biasa dalam memburu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Berpijak pada konsep “5 Sukses Ramadan”, LDII menata ibadah secara sistematis dan terukur: sukses puasa, sukses tarawih, sukses tadarus Al-Qur’an hingga khatam, sukses meraih Lailatul Qadar, serta sukses menunaikan zakat fitrah. Lima pilar ini bukan sekadar slogan, melainkan strategi ibadah yang membentuk disiplin, ketahanan, dan kesungguhan spiritual umat.


Di berbagai masjid naungan LDII, denyut ibadah dimulai sejak selepas salat Isya. Tarawih ditegakkan, lantunan ayat suci menggema dalam tadarus, dilanjutkan pengajian yang sarat nasihat dan penguatan iman. Waktu berjalan, namun semangat tidak surut. Justru di sanalah i’tikaf mengambil peran hening, dalam, dan penuh makna.


Ketua LDII Papua Barat, Drs. H. Suroto, menegaskan bahwa i’tikaf dilaksanakan mulai malam ke-21 hingga akhir Ramadan. Rentang waktu dari pukul 19.45 hingga menjelang tengah malam bahkan dini hari dipenuhi aktivitas ibadah yang tertata. Namun setelah rangkaian bersama usai, setiap individu larut dalam kesendirian spiritual untuk berzikir, bermunajat, membaca Al-Qur’an, membangun dialog batin dengan Sang Pencipta.



Menariknya, gerakan ini tidak eksklusif bagi kalangan tertentu. Dari orang tua hingga anak-anak, dari remaja hingga dewasa, semua terlibat. Masjid bukan hanya ramai, tetapi hidup yang dipenuhi energi kebersamaan yang menyalakan semangat kolektif untuk meraih “malam yang pangkat”.
Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, i’tikaf menjadi perlawanan yang elegan akan menarik diri dari hiruk-pikuk, lalu menyelam dalam keheningan untuk menemukan makna terdalam kehidupan. LDII menunjukkan bahwa kekuatan umat tidak selalu tampak dalam keramaian aksi, tetapi justru lahir dari kesungguhan ibadah yang konsisten dan terarah.


Inilah wajah Ramadhan yang bergairah, tertib, dan berkelas ketika ibadah tidak hanya dijalankan, tetapi dirancang, dihidupkan, dan diperjuangkan sepenuh jiwa. Sebab bagi warga LDII, Lailatul Qadar bukan sekadar ditunggu, melainkan dijemput dengan kesungguhan tanpa kompromi.


Tcm Muslimin/Tcm Reski