Ticker

6/recent/ticker-posts

“75 Ketukan Langit dari Pereng, Saat Relawan Senkom ‘Mengiris Dapur Sendiri’ Demi Warga Wong Cilik”




TCM KARANGANYAR.,- Ini bukan sekadar pembagian sembako. Ini adalah tamparan halus bagi siapa saja yang masih menunda berbagi.
Di bawah langit Desa Pereng yang teduh, Minggu (15/3/2026), relawan Senkom Mitra Polri Kecamatan Mojogedang datang bukan membawa janji melainkan bukti. Dengan seragam oranye hitam yang tegas, mereka menyusuri gang-gang sempit, mengetuk pintu demi pintu, mengantarkan sesuatu yang lebih dari sekadar bahan pangan namun harapan.
Bukan Dari Donatur, Tapi Dari “Luka” Sendiri
Sebanyak 75 paket sembako dibagikan. Namun yang membuatnya mengguncang bukan jumlahnya melainkan asalnya.


Tidak ada sponsor besar. Tidak ada panggung pencitraan.
Semua berasal dari kantong pribadi para anggota.
Di tengah tekanan ekonomi, mereka justru memilih berbagi. Mereka tidak menunggu berlebih mereka memberi di saat cukup pun belum tentu.
“Kami ingin memastikan bantuan ini sampai langsung. Tapi lebih dari itu, kami ingin hadir… sebagai sesama manusia,” ujar Ketua Senkom Mojogedang, Suwadi.
Kalimat itu sederhana. Tapi dampaknya dalam.
Karena di balik setiap paket, ada pengorbanan kecil yang diam-diam menjadi besar.
Angka 75: Simbol yang Tidak Main-Main
Bagi sebagian orang, angka hanyalah hitungan. Tapi di Desa Pereng, angka 75 berubah menjadi pesan.



Camat Mojogedang, Agus Dwitanto, mengupas maknanya dengan dalam bahwa
7 adalah arah—ke mana kebaikan harus disebarkan tanpa batas.
5 adalah dasar pengingat bahwa iman tanpa berbagi hanyalah konsep kosong.
Ini bukan simbol kosong. Ini pengingat keras bahwa nilai hidup tidak diukur dari apa yang disimpan, tetapi dari apa yang dilepaskan.
“Ini bukan kegiatan biasa. Ini adalah energi sosial yang menguatkan masyarakat,” tegasnya.


Di Balik Pintu, Ada Air Mata yang ditahan ketika pintu-pintu rumah diketuk, yang terbuka bukan hanya kayu dan engsel.

Ada harapan.
Ada rasa lega.
Ada doa yang akhirnya menemukan jawabannya.



Sugiman, warga Desa Pereng, hanya bisa tersenyum dengan mata yang berbicara lebih banyak dari kata-kata. Sementara Suparman dari Sidodadi menggenggam harapan agar langkah kecil ini tidak pernah berhenti.
Karena bagi mereka, bantuan ini bukan soal isi paket.
Tapi tentang rasa bahwa mereka tidak sendiri.
Saat “Rescue” Tak Lagi Soal Bencana
Menariknya, kegiatan ditutup dengan keberangkatan armada rescue Senkom. Namun kali ini, bukan untuk mengevakuasi korban bencana.
Melainkan mengangkut logistik kehidupan.


Sebuah ironi yang indah bahwa penyelamatan tidak selalu datang saat musibah, tapi juga saat perut mulai gelisah.
Turut hadir Wakil Ketua Senkom Karanganyar, Zainoel Muttaqin, yang menyaksikan langsung bagaimana aksi sederhana bisa menjelma menjadi kekuatan sosial yang nyata.



Pesan yang tak bisa diabaikan
dari Desa Pereng, sebuah pesan keras bergema:

Bahwa keamanan sejati tidak hanya dijaga dengan patroli,
tetapi dengan kepedulian.
Bahwa ketahanan wilayah tidak hanya dibangun dengan sistem,
tetapi dengan rasa.
Dan bahwa berbagi itu tidak pernah menunggu kaya dulu.


Tcm Ghoni/Tcm Bintang