Ticker

6/recent/ticker-posts

Bengkulu Jadi Provinsi ke-16, LDII Gebrak Era Digital ; 105 Generasi Muda Digembleng Jadi Jurnalis Antih​oaks


TCM BENGKULU.,- Era digital membuat siapa pun bisa menjadi penyebar informasi. Namun, tidak semua informasi layak dipercaya. Di tengah derasnya arus hoaks, potongan video tanpa konteks, dan framing di media sosial, kemampuan jurnalistik menjadi senjata penting untuk memastikan publik memperoleh informasi yang benar dan utuh.(6/09/2026)

Kesadaran itulah yang mendorong Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bengkulu memperkuat kapasitas generasi penerus melalui Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar. Sebanyak 105 peserta dari DPD LDII kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu mengikuti pelatihan yang digelar di Kantor DPW LDII Provinsi Bengkulu.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Umum DPP LDII Bidang Komunikasi, Informasi dan Media (KIM), H. Rulli Kuswahyudi, S.Sos., yang datang dari Jakarta mewakili Ketua DPP LDII. Selain memberikan sambutan, Rulli juga turun langsung menjadi narasumber untuk membekali peserta dengan dasar-dasar jurnalistik.

Rulli menyebut Bengkulu menjadi provinsi ke-16 yang mengikuti pelatihan jurnalistik di lingkungan LDII. Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan momentum untuk melahirkan generasi penerus yang mampu mengambil peran dalam menyampaikan informasi organisasi secara benar kepada masyarakat.

“Bengkulu menjadi provinsi ke-16 yang mengikuti pelatihan jurnalistik di lingkungan LDII. Ini menjadi suatu harapan baru bagi generasi penerus di Bengkulu untuk ikut serta memberitakan berbagai kegiatan LDII dengan benar,” ujar H. Rulli.

Jangan Biarkan Hoaks Menang

Rulli menegaskan, tantangan komunikasi di era digital bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memastikan informasi tersebut benar sebelum disebarkan.



Media sosial memungkinkan sebuah informasi menyebar dalam hitungan detik. Masalahnya, kecepatan tersebut sering kali tidak diikuti proses verifikasi. Akibatnya, informasi yang belum tentu benar dapat berubah menjadi viral dan membentuk persepsi publik.

“Banyak isu yang kita jumpai dan viral di media sosial, padahal kenyataannya tidak seperti yang terlihat dalam video-video yang bertebaran. Karena itu, kita harus mampu memberikan informasi yang benar agar masyarakat mendapatkan gambaran yang utuh dan tidak terjebak pada informasi yang keliru,” jelasnya.

Menurut Rulli, potongan video maupun informasi yang dilepaskan dari konteks dapat melahirkan persepsi berbeda dari fakta sebenarnya. Kondisi tersebut bahkan berpotensi menciptakan framing negatif terhadap individu maupun organisasi.

Karena itu, generasi penerus LDII didorong tidak berhenti sebagai konsumen informasi, tetapi naik kelas menjadi produsen informasi yang positif, faktual, berimbang, dan bertanggung jawab.

Dari Konsumen Menjadi Produsen Informasi

Melalui pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip-prinsip dasar jurnalistik, mulai dari menggali fakta, melakukan verifikasi, menyusun berita secara berimbang, hingga memahami pentingnya penerapan Kode Etik Jurnalistik.

Kemampuan tersebut dinilai penting agar berbagai kegiatan, program, dan kontribusi LDII di tengah masyarakat tidak hanya berlangsung dan dirasakan, tetapi juga dapat dikomunikasikan secara baik kepada publik.

Rulli berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan. Sebaliknya, pengetahuan tersebut harus diterapkan dalam aktivitas komunikasi dan publikasi di tingkat organisasi, baik melalui media internal maupun media sosial.

“Ilmu jurnalistik yang diberikan tentunya berdasarkan kode etik jurnalistik dalam memberitakan semua berita. Mudah-mudahan ilmu ini bermanfaat dan dapat diterapkan oleh generasi penerus LDII di Bengkulu,” pungkasnya.



Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar DPW LDII Provinsi Bengkulu menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem komunikasi organisasi di tengah perubahan lanskap media yang semakin cepat.

Bengkulu kini menjadi provinsi ke-16. Tantangannya bukan sekadar bisa memberitakan, tetapi mampu menghadirkan informasi yang benar ketika hoaks bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi.


Tcm Tim/Tcm Ridho