Ticker

6/recent/ticker-posts

PHMAL Senkom Surakarta Digembleng! Siap Gempur Disinformasi, Rebut Ruang Digital dengan Narasi Positif



Tcm Surakarta., - Pertarungan zaman tak lagi hanya di jalanan. Ia berpindah ke layar ponsel, ke lini masa, ke ruang-ruang digital yang liar tanpa sekat. Di tengah derasnya disinformasi dan provokasi media sosial, Senkom Mitra Polri Kota Surakarta mengambil langkah tegas untuk membentuk pasukan narasi.
Selasa (17/2/2026).

Di Besmen Masjid Rhodotul Jannah, Pucangsawit, Jebres, anggota PHMAL digembleng dalam Pelatihan Intensif Jurnalistik. Bukan sekadar belajar menulis namun ini adalah konsolidasi kekuatan informasi.


Ketua Senkom Kota Surakarta, Yusuf Erwansyah, membuka kegiatan dengan nada lugas dan keras bahwa pengabdian hari ini tak cukup hanya hadir di lapangan.
“Perjuangan kita sekarang adalah memberitakan kebaikan. Jangan terpancing provokasi. Kita jawab dengan karya nyata untuk masyarakat dan NKRI.”
Pesannya jelas. Informasi bukan lagi pelengkap. Ia adalah senjata.


Narasi yang rapi, data yang akurat, dan sumber yang kredibel menjadi tameng menghadapi opini liar yang kerap membenturkan fakta dengan prasangka.



Dalam forum itu, kembali ditegaskan fondasi gerak organisasi: Lit PAM Gal.
Lit (Penelitian) membaca situasi, mengumpulkan data, menganalisis fakta.
PAM (Pengamanan) – bertindak presisi, menjaga stabilitas.
Gal (Penggalangan) – merangkul, membangun dukungan sosial.


Konsep ini tak hanya relevan dalam pengamanan fisik, tetapi juga dalam pengelolaan informasi publik agar terukur, strategis, dan membangun harmoni.

Menulis dan Disiplin, Bukan Bakat
Materi disampaikan aktivis media online, Ghoni Imam Abdul Ghofur. Ia mematahkan mitos bahwa menulis adalah bakat langka.
“Semua orang bisa menulis. Yang membedakan hanya kemauan latihan dan keberanian memulai.”
Ia menguliti teknik jurnalistik secara tajam: pentingnya lead yang menggigit, judul yang kuat, data yang presisi, dan keberimbangan informasi.


Media online disebutnya sebagai referensi struktur berita yang sistematis dan tegas. Menulis, tegasnya, adalah soal disiplin berpikir.
Dari dari dokumentasi ke dominasi narasi dan pelatihan berlangsung interaktif sekaligus melakukan diskusi tajam, praktik langsung, hingga simulasi penyusunan berita kegiatan membuat suasana hidup. 


Bukan kelas pasif, melainkan ruang tempaan mental komunikasi. Peserta Abdul Baroroh mengakui perubahan perspektifnya.
“Kami jadi lebih percaya diri menulis dan menyampaikan kegiatan secara profesional.”
Dari Lapangan ke Lini Masa
Senkom Surakarta tak ingin setiap aksi sosial berhenti sebagai dokumentasi internal.



Setiap pengamanan, pengabdian, dan kerja kemasyarakatan harus hadir di ruang publik sebagai inspirasi.
Di era digital, yang menguasai narasi akan memengaruhi persepsi.


Dan persepsi membentuk kepercayaan hingg PHMAL Senkom Surakarta kini tidak hanya siap menjaga ketertiban di lapangan karena mereka wajib siap mengawal kebenaran di dunia maya.


Narasi bukan sekadar kata,Ia adalah kekuatan dan kekuatan itu sedang ditempa.

Tcm Muslimin/Tcm Sdj