Ticker

6/recent/ticker-posts

SANTRI JANGAN HANYA JADI PENONTON! Abad Kedua Nahdlatul Ulama Ditantang Lahirkan Menteri Teknis, Hakim Agung hingga Pakar Nuklir



TCM CIREBON.,- Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama menghadapi ujian besar, apakah pesantren akan terus melahirkan alim ulama semata, atau mulai mencetak teknokrat, birokrat, ilmuwan, dan pemimpin strategis bangsa?


Realitasnya keras. Basis massa terbesar, ribuan pesantren berdiri kokoh. Namun ketika bicara kursi-kursi teknis penentu arah kebijakan negara. Direktur Jenderal, Direktur, hakim tinggi, kepala lembaga strategis dan nama santri masih jarang terdengar. Yang tampak sering kali hanya simbolik di permukaan, sementara kendali teknokratis tetap berada di tangan mereka yang jauh dari kultur pesantren.


Jika paradigma ini tidak dirombak, pesantren berisiko menjadi “pabrik surplus agamawan” dan mulia secara niat, tetapi terpinggirkan dalam struktur kekuasaan modern.
Doktrin Lama Harus Dibongkar
Selama ini, santri ideal kerap dimaknai sempit untuk menjadi kiai atau ustadz, mengajar kitab kuning, tafaqquh fiddin semata. Spiritnya luhur, tetapi dampak strukturalnya problematik. Ruang pengabdian agama tidak sebanding dengan jumlah lulusan.


Sudah saatnya khidmah dimaknai lebih luas. Santri juga harus tafaqquh fil ilmi dalam arti besar agar bisa menjadi dokter, insinyur, hakim, diplomat, ahli AI, ekonom, hingga CEO global. Santri tidak boleh alergi pada matematika, sains, teknologi, dan bahasa Inggris.


Tanpa itu, mustahil santri bisa bersaing menembus kampus-kampus elite seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, apalagi universitas dunia sekelas Harvard University atau University of Oxford.


Tanpa keberanian transformasi kurikulum, pesantren akan terus kalah dalam seleksi UTBK, kalah dalam beasiswa internasional, dan kalah dalam perebutan ruang strategis negara.

Infrastruktur Masih Tertatih.
Fakta di lapangan tak bisa ditutup-tutupi. Banyak pesantren masih minim laboratorium sains, perpustakaan modern, akses teknologi informasi, bahkan tenaga pendidik linier di bidang umum. Tak sedikit guru matematika atau sains mengajar karena penugasan, bukan kompetensi akademik.


Bagaimana mungkin santri menembus revolusi industri 5.0 jika laboratorium dasar pun belum memadai?

NU Tak Boleh Hanya Jadi Penjaga Moral

Sebagai organisasi besar, Nahdlatul Ulama tidak boleh hanya menjadi benteng moral di luar sistem. NU melalui perangkatnya harus memimpin supervisi transformasi pendidikan pesantren secara serius dan sistematis.
Workshop berkelanjutan, pelatihan profesional, penegakan linieritas tenaga pendidik, hingga integrasi kurikulum nasional bukan lagi pilihan melainkan keniscayaan.


Abad kedua NU harus menjadi momentum lompatan peradaban. Pesantren harus berubah menjadi kawah candradimuka lahirnya pemimpin bangsa di segala lini: dari hakim agung, menteri teknis, kepala lembaga strategis, hingga ilmuwan nuklir dan pakar kecerdasan buatan.


Pilihan hanya dua berani bertransformasi sekarang atau selamanya menjadi penonton di pinggiran kekuasaan.

Tcm Tim/Tcm Ridho