Ticker

6/recent/ticker-posts

Di Tengah Arus Modernisasi, Bupati Gowa Tegaskan Akar Budaya dan Silaturahmi dengan Tokoh Adat Jadi Pesan Kuat Arah Pembangunan



TCM GOWA.,- Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan daerah, Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, memilih menegaskan satu hal mendasar: kemajuan tanpa akar budaya adalah kehilangan jati diri.


Pesan itu ditegaskan melalui kunjungan silaturahmi ke kediaman Tokoh Adat Gowa, Andi Syamsuddin A. Idjo Patta Sassu Daeng Mattawang Karaeng Segeri Karaengta Tumabicara Butta, di BTN Hamzy, Makassar, Selasa (24/3/26), bersama Direktur Umum Perumda Air Minum Tirta Jeneberang, Khaerul Aco.


Langkah ini bukan sekadar tradisi tahunan Idul Fitri. Lebih dari itu, menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Gowa tidak ingin tercerabut dari akar sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal dalam menjalankan roda pembangunan.
“Silaturahmi ini bukan hanya soal lebaran, tetapi bagaimana kita menjaga hubungan batin antara pemerintah dan penjaga nilai-nilai adat. Pembangunan harus punya arah, dan arah itu tidak boleh lepas dari budaya,” tegas Bupati Husniah.


Di tengah realitas banyak daerah yang mulai mengabaikan peran tokoh adat, Gowa justru mengambil posisi berbeda dan menjadikan mereka sebagai mitra strategis, bukan sekadar simbol seremonial.
Bupati perempuan pertama di Gowa ini menilai, tokoh adat adalah penyangga moral sekaligus penjaga keseimbangan sosial yang tidak tergantikan.
“Tokoh adat bukan pelengkap. Mereka adalah penjaga nilai, pengingat batas, dan penuntun arah. Tanpa mereka, pembangunan bisa kehilangan ruh,” ujarnya lugas.


Kunjungan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa Pemerintah Kabupaten Gowa berkomitmen membangun dengan pendekatan yang tidak hanya berbasis fisik dan ekonomi, tetapi juga berakar pada identitas budaya.
“Kita ingin Gowa maju, tapi bukan menjadi Gowa yang kehilangan dirinya sendiri. Justru kekuatan budaya inilah yang harus menjadi fondasi utama,” tambahnya.


Sementara itu, Andi Syamsuddin A. Idjo Patta Sassu menyambut kunjungan tersebut dengan penuh makna. Baginya, kehadiran Bupati bukan sekadar representasi kekuasaan, melainkan bagian dari ikatan historis dan kekeluargaan yang tak terpisahkan dari Kerajaan Gowa.
“Kami menerima dengan hati terbuka. Ini bukan hanya hubungan pemerintah dan tokoh adat, tetapi hubungan darah, sejarah, dan tanggung jawab bersama menjaga warisan leluhur,” ungkapnya.


Ia pun menegaskan kesiapan tokoh adat untuk berdiri di garis depan dalam menjaga nilai budaya sekaligus mengawal arah pembangunan daerah.
“Kami tidak hanya menjaga adat, tapi juga memastikan pembangunan tetap berada di jalur yang benar. Kami siap mendukung dan mengingatkan, demi Gowa yang berdaulat secara budaya dan kuat secara pembangunan,” tegasnya.


Silaturahmi ini menjadi lebih dari sekadar pertemuan. Ia menjelma sebagai pesan politik kebudayaan bahwa di Gowa, masa depan tidak dibangun dengan melupakan masa lalu, tetapi justru dengan merawatnya.


Tcm Bintang/Tcm Sdj