Tcm Makassar.,- Harapan menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah harus sedikit tertahan. Hasil rukyatul hilal di Kota Makassar menunjukkan bahwa hilal belum tampak, meski pengamatan telah dilakukan secara intensif di Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar, Kamis (19/3/2026) sore.
Tim pengamat yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, ulama, hingga akademisi termasuk Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)tidak berhasil menyaksikan kemunculan hilal.
Data dari BMKG Wilayah IV Makassar mencatat posisi hilal hanya berada pada ketinggian 1 derajat 40,32 menit dengan elongasi 5,27 derajat.
Angka tersebut masih jauh dari ambang batas yang ditetapkan oleh MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Artinya, secara ilmiah dan syar’i, hilal belum memenuhi kriteria untuk menandai datangnya 1 Syawal.
Situasi ini memperkuat indikasi bahwa bulan Ramadan tahun ini berpotensi digenapkan menjadi 30 hari. Namun, keputusan resmi tetap berada di tangan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat yang akan mempertimbangkan laporan rukyat dari seluruh penjuru Indonesia.
Keterlibatan LDII Sulawesi Selatan dalam pengamatan ini menjadi bukti nyata komitmen ormas Islam dalam menjaga akurasi penentuan kalender hijriah, sekaligus memperkuat persatuan umat. Di tengah dinamika penentuan hari raya, sinergi antara ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan kembali menjadi fondasi utama.
Dengan hasil ini, umat Islam di Indonesia kini menanti keputusan resmi pemerintah apakah Lebaran benar-benar harus menunggu satu hari lagi. Satu hal yang pasti, semangat kebersamaan tetap menjadi penuntun dalam menyambut hari kemenangan.
Tcm Muslimin/Tcm Sdj