Ticker

6/recent/ticker-posts

Jadikan Idul Fitri 1447 H Momentum Menyatukan Perbedaan Karena Intoleransi, Terorisme, dan Intimidasi Bukan Jati Diri Bangsa




Tcm Jombang., (19 Maret 2026)-  Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah kembali menjadi cermin kedewasaan bangsa Indonesia dalam merawat kemajemukan. Di tengah dinamika tersebut, Persatuan Nasional Indonesia Bersatu (PNIB) menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum strategis untuk mempererat persatuan dan meneguhkan nilai toleransi.


Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho yang akrab disapa Gus Wal, menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya bukanlah sumber perpecahan, melainkan bagian dari kekayaan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.
“Kiblat kita tetap sama, tradisi kita tetap satu. Perbedaan penetapan Syawal bukan alasan untuk terpecah, justru menjadi bukti bahwa bangsa ini matang dalam menyikapi keberagaman. Kita tidak lagi bicara soal NU atau Muhammadiyah, tetapi tentang kebersamaan dalam perbedaan sebagai anugerah,” tegasnya.


PNIB, sebagai organisasi yang lahir dari rahim kemajemukan budaya dan tradisi, konsisten berdiri di garis depan dalam melawan segala bentuk intoleransi, radikalisme, hingga terorisme. Bagi PNIB, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan fondasi utama keutuhan bangsa.


Gus Wal menggambarkan toleransi sebagai perjalanan bersama di jalur masing-masing tanpa saling menjatuhkan.
“Toleransi itu seperti berjalan di titian yang berbeda, namun saling menjaga agar tidak ada yang terjatuh. Kita tidak boleh lengah, karena provokasi, intimidasi, dan propaganda akan selalu hadir dalam dinamika peradaban. Banyak negara runtuh karena gagal mengelola perbedaan. Indonesia jangan sampai mengulang kesalahan itu,” ujarnya tajam.


Di tengah krisis multidimensi yang masih membayangi bangsa, PNIB mengingatkan bahwa Idul Fitri harus menjadi titik balik untuk memperkuat kesadaran kolektif. Kemenangan melawan hawa nafsu selama Ramadhan, menurutnya, tidak boleh berhenti hanya pada seremoni.
“Nafsu kekuasaan, korupsi, dan pemaksaan kehendak adalah musuh nyata yang terus mengintai. Jika kita mampu mengendalikannya, maka toleransi akan menjadi kekuatan utama, baik secara individu maupun kolektif,” lanjutnya.


Lebih jauh, Gus Wal menekankan bahwa Idul Fitri adalah momentum “kembali ke fitrah” yang sesungguhnya untuk membersihkan diri tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial dan kebangsaan.


PNIB juga menyoroti meningkatnya ancaman penyebaran paham radikalisme dan terorisme yang kini menyasar generasi muda melalui media sosial dan platform digital.
“Ini saatnya bangsa Indonesia melakukan ‘bersih diri’ dari intoleransi, radikalisme, hingga ideologi yang mengancam keutuhan negara. Orang tua harus lebih waspada. Anak-anak, khususnya remaja, jangan dibiarkan tanpa pengawasan dalam penggunaan gadget. Penyebaran paham berbahaya kini masif melalui media sosial dan game online,” pungkasnya.


Menutup pernyataannya, PNIB mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak lelah mencintai Indonesia dalam kondisi apapun.
Idul Fitri, bagi PNIB, bukan hanya hari kemenangan, tetapi juga panggilan moral untuk menjaga persatuan, merawat keberagaman, dan menegaskan bahwa intoleransi, terorisme, serta intimidasi bukanlah budaya bangsa Indonesia.


Tcm Tim/Tcm Resky