Ticker

6/recent/ticker-posts

Ketum DPP LDII; Haji Mabrur Harus Jadi Penggerak Peradaban, Bukan Sekadar Gelar Spiritual


TCM JAKARTA.,- Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa haji mabrur harus menjadi kekuatan penggerak perubahan sosial dan pembangunan peradaban bangsa. Menurutnya, kemabruran haji tidak cukup diwujudkan melalui peningkatan ibadah pribadi, tetapi harus tercermin dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.


Menyambut kepulangan jamaah haji Indonesia, Dody mengingatkan bahwa sejarah bangsa mencatat para haji sebagai kelompok yang berperan penting dalam membangkitkan kesadaran masyarakat, memperjuangkan kemerdekaan, serta mendorong kemajuan pendidikan dan peradaban.
“Jika ditarik dari benang merah sejarah, para tokoh bangsa terdahulu sepulang dari tanah suci selalu membawa spirit perubahan. Ibadah haji menjadi katalisator perjuangan kemerdekaan, mencerdaskan bangsa, dan mengikis kolonialisme,” ujarnya.


Menurut Dody, esensi haji mabrur adalah terjadinya transformasi diri menuju kondisi yang lebih baik, baik dalam aspek spiritual, intelektual, maupun sosial. Karena itu, jamaah haji yang kembali ke tanah air harus mampu menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi lingkungan sekitarnya.
“Haji yang mabrur tidak boleh berhenti pada kesalehan individu. Ia harus hadir di tengah masyarakat, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan menjadi pelopor solusi bagi berbagai problem sosial,” tegasnya.



DPP LDII memandang peran strategis para haji dalam pembangunan bangsa dapat diwujudkan melalui tiga pilar utama. Pertama, menjadi penggerak moral dan etika dengan menampilkan kejujuran, integritas, serta keteladanan. Kedua, menjadi perekat sosial yang menumbuhkan toleransi, persatuan, dan kesejukan di tengah masyarakat. Ketiga, menjadi penggerak ekonomi umat melalui penguatan zakat, infak, sedekah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Dody meyakini, apabila setiap tahun ratusan ribu jamaah haji Indonesia pulang dengan semangat perubahan yang sama, maka akan terbentuk kekuatan sosial yang besar untuk mendorong lahirnya Indonesia yang maju, religius, dan berkeadilan.


Pandangan serupa disampaikan anggota Majelis Pakar DPP LDII sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Aini, KH Aceng Karimullah. Ia menjelaskan bahwa sejak awal abad ke-20, ibadah haji telah menjadi ruang pertemuan umat Islam dari berbagai belahan dunia yang melahirkan pertukaran gagasan dan semangat perubahan.


Menurut KH Aceng, ukuran kemabruran haji tidak hanya terlihat dari ritual yang telah ditunaikan, tetapi juga dari perubahan sikap setelah kembali ke tanah air. Haji mabrur ditandai dengan tutur kata yang lebih santun, kepedulian sosial yang semakin kuat, serta kehati-hatian dalam menjalani kehidupan.
“Semakin mabrur seseorang, semakin tinggi empati sosialnya, semakin peduli terhadap lingkungan, dan semakin berhati-hati terhadap hal-hal yang haram maupun syubhat,” ujarnya.



Ia menambahkan bahwa seluruh ibadah dalam Islam sejatinya memiliki dampak transformasi sosial. Salat membentuk akhlak, puasa melatih kesabaran, dan haji melahirkan solidaritas serta tanggung jawab sosial yang lebih besar.


Dengan demikian, haji mabrur bukan hanya prestasi spiritual pribadi, melainkan modal besar untuk menghadirkan perubahan, memperkuat persatuan, dan membangun peradaban Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.


Tcm Muslimin/Tcm Sdj