TCM SURABAYA., (26 Juni 2026)- Dugaan adanya praktik penggembosan terhadap gerakan mahasiswa kembali menjadi sorotan publik. Organisasi kemasyarakatan Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) mengecam keras segala bentuk intervensi yang diduga bertujuan melemahkan perjuangan mahasiswa melalui praktik transaksional maupun politik adu domba.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal, menegaskan bahwa mahasiswa merupakan pejuang intelektual, penjaga demokrasi, sekaligus harapan masa depan bangsa yang tidak pantas dijadikan alat kepentingan politik maupun kekuasaan.
"Mahasiswa adalah pejuang intelektual harapan bangsa. Mereka bukan komoditas yang bisa dibeli dengan nominal berapa pun. Upaya menggembosi gerakan mahasiswa merupakan bentuk pelemahan demokrasi yang sangat berbahaya," tegas Gus Wal.
Menurutnya, jika dugaan adanya praktik transaksional terhadap organisasi mahasiswa benar terjadi, maka hal tersebut merupakan ancaman serius terhadap kebebasan akademik dan kemerdekaan menyampaikan pendapat yang dijamin konstitusi.
PNIB menilai pola pengendalian gerakan mahasiswa melalui pendekatan transaksional maupun adu domba bukan hanya mencederai independensi mahasiswa, tetapi juga berpotensi merusak kualitas demokrasi di Indonesia.
"Mahasiswa sengaja dipertentangkan dengan sesama mahasiswa. Akibatnya, perhatian publik bergeser dari substansi tuntutan rakyat menjadi konflik internal. Ini skenario yang harus diwaspadai bersama," ujar Gus Wal.
Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa lahir dari idealisme, bukan karena kepentingan materi. Oleh sebab itu, seluruh elemen mahasiswa diminta tetap menjaga persatuan, mengawal aspirasi masyarakat, dan tidak terjebak dalam upaya-upaya yang dapat memecah kekuatan moral mahasiswa.
PNIB juga mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat. Karena itu, segala dugaan intervensi yang bertujuan membungkam atau melemahkan gerakan mahasiswa harus diusut secara transparan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Menutup keterangannya, Gus Wal menegaskan bahwa sejarah bangsa telah membuktikan mahasiswa selalu berada di garis depan setiap momentum perubahan.
"Kalau suara mahasiswa dianggap ancaman oleh kekuasaan, maka yang perlu dipertanyakan adalah kualitas demokrasinya. Sejarah telah membuktikan, kekuasaan bisa berganti, tetapi idealisme mahasiswa tidak akan pernah bisa dibeli dan tidak akan pernah tunduk kepada intimidasi maupun uang. Mahasiswa akan tetap menjadi suara nurani rakyat dan benteng terakhir demokrasi Indonesia," pungkasnya.
Tcm Raja/Tcm Sdj