Tcm Surabaya., (21 Februari 2026) – Polemik program MBG kini memasuki babak panas. Kritik keras Ketua BEM UGM, Tyo Ardianto, terhadap kebijakan yang dinilai menyedot anggaran pendidikan memantik gelombang perdebatan nasional. Namun di tengah pusaran kontroversi, Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) tampil tegas membela mahasiswa.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menyatakan bahwa kritik yang dilontarkan BEM UGM adalah bentuk tanggung jawab moral kaum intelektual, bukan pelecehan terhadap institusi negara.
“Mahasiswa itu barometer nurani publik. Ketika mereka bersuara lantang, itu pertanda ada kegelisahan yang nyata. Mengkritik MBG bukan tindakan subversif, tapi ekspresi cinta pada rakyat dan bangsa,” tegas Gus Wal.
Anggaran Pendidikan Dipertaruhkan
PNIB menyoroti dugaan penggunaan anggaran pendidikan untuk mendanai MBG. Menurut Gus Wal, jika benar program tersebut menggerus porsi 20 persen APBN yang diwajibkan untuk pendidikan, maka hal itu bukan sekadar kebijakan melainkan persoalan konstitusional.
Dampaknya dinilai serius karena pastinya mengancam keberlanjutan KIP, PIP, dan LPDP dan ketidakjelasan nasib guru honorer serta Infrastruktur sekolah yang rusak dan tak kunjung diperbaiki
“Jangan gadaikan masa depan anak bangsa demi program yang tidak transparan. Pendidikan adalah fondasi, bukan lumbung yang bisa diambil seenaknya,” ujarnya tajam.
Kritik “Maling Berkedok Gizi” Jadi Alarm Bahaya
Viralnya plesetan MBG menjadi “Maling Berkedok Gizi” disebut Gus Wal sebagai alarm sosial. Ia menilai istilah itu muncul karena publik mencium potensi penyimpangan dan ketidakjelasan tata kelola.
“Kalau kebijakan bersih dan transparan, tidak mungkin muncul kecurigaan sebesar ini. Pemerintah harus menjawab dengan data dan audit terbuka, bukan dengan membungkam kritik,” sentilnya.
Demokrasi Tak Boleh Antikritik
PNIB juga mengingatkan bahwa demokrasi memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Upaya intimidasi, jika ada, dinilai sebagai kemunduran dalam kehidupan berbangsa.
“Mahasiswa tidak sedang mencari panggung. Mereka sedang menjaga republik. Jangan pernah alergi terhadap kritik, karena dari situlah kebijakan diuji dan diperbaiki,” pungkas Gus Wal.
Kini, sorotan publik tak hanya tertuju pada MBG, tetapi juga pada komitmen pemerintah menjaga transparansi anggaran dan keberpihakan pada pendidikan. Satu hal yang tak terbantahkan bahwa suara mahasiswa kembali menggema, dan gaungnya mengguncang pusat kekuasaan.
Tcm Gus/Tcm Ridho