Ticker

6/recent/ticker-posts

“Darah di Tanah Misi Damai" Gugurnya Prajurit TNI Mengoyak Nurani Dunia, Rakyat INDONESIA Menuntut Negara Tegaskan Ini Bukan Sekadar Tragedi Biasa




Tcm Jombang., (31 Maret 2026)-  Dentuman konflik global kembali menorehkan luka bagi Indonesia. Di tengah mandat suci menjaga perdamaian dunia, seorang prajurit terbaik bangsa, Praka Farizal Romadhon, gugur dalam tugas sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL). Ia menjadi korban dalam pusaran kekerasan yang kian tak mengenal batas, bahkan terhadap simbol kemanusiaan sekalipun.


Gugurnya prajurit TNI ini bukan sekadar kabar duka, melainkan tamparan keras bagi nurani dunia internasional. Misi perdamaian yang seharusnya steril dari agresi, justru berubah menjadi ladang ancaman mematikan. Fakta ini mempertegas bahwa garis antara perang dan kemanusiaan telah dikoyak secara brutal.


Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), angkat bicara dengan nada tegas dan penuh keprihatinan. Ia menyebut tragedi ini sebagai bukti nyata kegagalan moral global dalam melindungi nilai-nilai kemanusiaan.
“Ketika pasukan perdamaian menjadi target, itu artinya dunia sedang kehilangan arah. Ini bukan lagi konflik biasa, ini adalah bentuk pembiaran terhadap kehancuran nilai kemanusiaan,” tegasnya.


Ia juga menilai eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia telah melampaui batas rasionalitas dan keadilan. Dalam pandangannya, dunia tidak bisa lagi sekadar menjadi penonton pasif atas tragedi yang terus berulang tanpa penyelesaian bermartabat.


Bagi PNIB, Praka Farizal Romadhon bukan hanya prajurit, tetapi representasi keberanian dan pengabdian tanpa pamrih. Sosok yang berdiri di garis depan bukan untuk perang, melainkan untuk menjaga harapan akan perdamaian dunia.
“Pengorbanannya melampaui makna kepahlawanan biasa. Ia adalah pahlawan perdamaian sejati untuk menjadikan simbol bahwa Indonesia hadir bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk menjaga dunia tetap waras,” ujar Gus Wal.


Duka semakin mendalam dengan beredarnya informasi gugurnya dua prajurit TNI lainnya, Kapten Infanteri Zulmi dan Sersan Satu (Sertu) Ikhwan. Hingga kini, proses evakuasi belum memungkinkan dilakukan akibat situasi yang masih sangat berbahaya dengan intensitas serangan yang tinggi.


Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa perdamaian dunia bukan sekadar jargon diplomatik, melainkan harga mahal yang harus dibayar dengan nyawa. Dan Indonesia, sekali lagi, membuktikan dirinya berada di barisan terdepan dalam menjaga nilai-nilai tersebut meski harus menanggung luka yang begitu dalam.

Tcm Tim/Tcm Sdj