Ticker

6/recent/ticker-posts

Saat Senkom Beraksi untuk Membantu Masyarakat Tanpa Pamrih




Tcm Surakarta.,- Hujan deras yang mengguyur Kota Surakarta sejak Selasa sore (14/4/2026) berubah menjadi ancaman serius saat banjir mulai merendam sejumlah wilayah di tengah malam.


Ketika sebagian warga terlelap, relawan Senkom SAR justru berada di garis depan, bergerak cepat menghadapi situasi darurat yang terus berkembang.
Dengan mengandalkan sistem komunikasi canggih seperti Senkom Digital Communication (SDC), handy talky (HT), serta grup koordinasi WhatsApp dan Telegram, para relawan memantau kondisi secara real-time tanpa henti. Setiap informasi yang masuk langsung ditindaklanjuti demi memastikan keselamatan warga.


Ketua Senkom Surakarta, H. Yusuf Erwansyah, A.Md., menginstruksikan seluruh jajaran untuk siaga penuh, khususnya di wilayah rawan banjir.
“Senkom harus selalu siap. Saat aman kita siaga, saat dibutuhkan kita hadir. Ini komitmen kami untuk masyarakat,” tegasnya.


Sejumlah wilayah terdampak cukup parah. Di Solo bagian barat seperti Jagalan dan Makamhaji, banjir sempat merendam kawasan permukiman sebelum akhirnya berangsur surut. Tim Senkom langsung turun tangan membantu pembersihan pascabanjir.


Namun kondisi berbeda terjadi di wilayah selatan. Di Kaliwingko, air naik hingga setinggi perut orang dewasa dengan arus yang deras dan terus meningkat. Situasi ini diperparah oleh luapan sungai yang tak mampu menahan debit air tinggi.


Sementara itu, di Teposanan (Baron), air mulai masuk ke rumah warga sejak dini hari. Kepanikan tak terhindarkan, memaksa sebagian warga mengungsi ke masjid terdekat demi menyelamatkan diri.


Jembatan Kaliwingko menjadi salah satu titik paling mengkhawatirkan. Tekanan air yang tinggi menunjukkan potensi risiko serius terhadap kekuatan infrastruktur di kawasan tersebut. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa meluas.


Di tengah kondisi yang mencekam, warga menyuarakan harapan besar kepada pemerintah. Mereka mendesak adanya solusi nyata, mulai dari normalisasi sungai hingga perbaikan sistem drainase yang selama ini dinilai belum optimal.
“Setiap musim hujan kami selalu was-was. Harus ada tindakan nyata, jangan hanya saat banjir datang,” ungkap salah satu warga.


Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa banjir bukan sekadar bencana musiman, melainkan masalah serius yang membutuhkan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan. Faktor sedimentasi, penyempitan alur sungai, serta tingginya curah hujan harus diantisipasi dengan langkah konkret.


Di tengah derasnya air dan gelapnya malam, satu hal tetap menyala untuk selalu semangat gotong royong. Senkom bersama masyarakat membuktikan bahwa solidaritas adalah kekuatan utama dalam menghadapi bencana.


Tcm Muslimin/Tcm Ridho