Tcm Pati.,- Kasus dugaan kekerasan seksual yang mengguncang dunia pondok pesantren di Pati terus menuai gelombang kemarahan publik. Sosok AS, oknum pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santriwati, kini menjadi sorotan tajam setelah dikabarkan belum ditahan dan bahkan disebut menghilang.7/05/26.
Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho, mengecam keras tindakan amoral tersebut dan menyebut pelaku sebagai predator seksual yang mencoreng nama baik dunia pesantren.
“Ini bukan lagi persoalan moral biasa. Ini kejahatan serius yang dibungkus simbol agama. Jangan sampai masyarakat tertipu oleh tampilan religius, sementara di baliknya ada perilaku biadab yang merusak masa depan santri,” tegas Gus Wal.
Menurutnya, tindakan oknum tersebut tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh pondok pesantren di Indonesia. Namun ia mengingatkan bahwa masyarakat harus mulai berani melakukan deteksi dini terhadap pola ajaran maupun perilaku menyimpang yang berpotensi membahayakan anak-anak.
“Kita jangan terjebak stigma bahwa semua pesantren buruk. Tapi kita juga tidak boleh lengah. Kasus seperti ini membuktikan ada celah pengawasan yang sangat lemah, bahkan bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa terungkap,” ujarnya.
Gus Wal juga menyoroti lambannya proses hukum terhadap tersangka yang hingga kini disebut belum berhasil diamankan aparat penegak hukum. Ia menduga adanya perlakuan istimewa karena pelaku merupakan tokoh terpandang di lingkungan pesantren.
“Kalau rakyat kecil mungkin sudah lama diborgol. Tapi ini justru kabur dan belum jelas penindakannya. Jangan sampai hukum terlihat tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” sindirnya keras.
PNIB mendesak aparat penegak hukum bergerak cepat memburu dan menangkap pelaku agar tidak menimbulkan keresahan lebih luas di tengah masyarakat.
“Tidak boleh ada ruang persembunyian bagi predator seksual. Negara harus hadir melindungi para santri dan memberi keadilan bagi korban,” tambah Gus Wal.
Di akhir pernyataannya, PNIB mengimbau para orang tua agar lebih aktif memantau perkembangan anak-anak mereka selama mondok di pesantren, termasuk memahami materi ajaran dan pola interaksi di lingkungan pendidikan agama.
“Jangan hanya menitipkan anak lalu merasa selesai. Orang tua harus berani bertanya, berani mengawasi, dan segera melapor bila ada indikasi penyimpangan. Jangan sampai agama dijadikan tameng untuk menutupi kebejatan,” pungkasnya.
Tcm Tim/Tcm Sdj