Ticker

6/recent/ticker-posts

Densus 88 Sikat Jaringan ISIS di Sulteng, Khilafah Radikal Kini Menyusup Lewat Medsos dan Game Online! "WASPADA"



Tcm Surabaya. (07 Mei 2026), – Organisasi kebangsaan lintas agama dan budaya Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) angkat suara terkait keberhasilan Densus 88 Anti Teror Polri menangkap delapan terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) terafiliasi ISIS di wilayah Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.



Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho, menyebut penangkapan tersebut sebagai alarm keras bahwa ancaman radikalisme dan terorisme belum mati, bahkan kini bergerak lebih senyap dan massive melalui ruang digital.
“Dulu mereka bergerak sembunyi-sembunyi di gunung dan hutan. Sekarang mereka masuk ke handphone anak-anak muda lewat media sosial, forum digital, Telegram, bahkan game online. Ini ancaman serius yang sering tidak disadari masyarakat,” tegas Gus Wal.


Menurutnya, propaganda kelompok radikal kini tidak lagi tampil kasar dengan ajakan perang secara terbuka, tetapi dibungkus narasi hijrah, dakwah eksklusif, anti pemerintah, anti keberagaman hingga glorifikasi sistem khilafah yang perlahan mempengaruhi pola pikir generasi muda.


Gus Wal memperingatkan bahwa proses radikalisasi biasanya dimulai dari doktrin kebencian terhadap Pancasila, demokrasi dan keberagaman. Ketika seseorang mulai merasa kelompoknya paling benar dan menganggap negara sebagai musuh, di situlah bibit ekstremisme mulai tumbuh.
“Yang paling berbahaya bukan hanya bomnya, tetapi proses cuci otaknya. Ketika anak muda mulai membenci NKRI, menganggap demokrasi thaghut dan mengidolakan ISIS atau khilafah transnasional, itu alarm merah bagi bangsa ini,” ujarnya keras.


PNIB juga mengapresiasi langkah tegas Densus 88 yang dinilai berhasil mencegah potensi ancaman lebih besar di wilayah bekas basis kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kawasan Sulawesi Tengah, kata Gus Wal, masih menjadi titik rawan penyebaran ideologi ekstrem apabila masyarakat mulai lengah.


Ia menegaskan perang melawan terorisme tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat keamanan. Tokoh agama, sekolah, keluarga hingga komunitas pemuda harus ikut aktif memperkuat literasi digital dan wawasan kebangsaan agar generasi muda tidak mudah terpapar propaganda radikal.
“ISIS dan jaringan radikal tidak pernah berhenti mencari celah.


Jangan sampai Indonesia menjadi ladang subur penyebaran ideologi kebencian. Islam Nusantara mengajarkan kasih sayang dan kedamaian, bukan intimidasi, teror dan khilafah ala kelompok ekstrem,” tegasnya.


Menutup pernyataannya, Gus Wal menyerukan gerakan nasional memperkuat Kampung dan Desa Pancasila sebagai benteng melawan intoleransi, radikalisme, anarkisme dan terorisme.
“Jaga Indonesia mulai dari kampung dan desa. Jangan beri ruang bagi intoleransi dan propaganda khilafah radikal berkembang di tengah masyarakat,” pungkasnya.


Tcm Tim/Tcm Suaib