Ticker

6/recent/ticker-posts

BUTA, SENDIRI, TANPA LISTRIK!!PUANG CONCI MENANTANG TAKDIR DENGAN IMAN




TCM GOWA., - Di sebuah sudut sunyi kawasan perkebunan Kabupaten Gowa, jauh dari pemukiman warga dan nyaris tak tersentuh pembangunan, seorang lelaki tua hidup dalam kesunyian yang tak biasa. Ia buta, tinggal sendiri, tanpa listrik, dan bergantung pada alam. Namun dari tempat terpencil itu, lahir sebuah kisah keteguhan iman yang mengguncang nurani.


Namanya Puang Conci, 54 tahun. Seorang duda dengan dua anak, yang kini menjalani hari-harinya di sebuah rumah kecil beratapkan rumbia dan berdinding anyaman bambu. Di samping rumahnya mengalir sungai dari lereng gunung, sementara sawah dan hutan mengurung kehidupannya dalam keheningan panjang.


Sejak anak-anaknya merantau ke Makassar demi masa depan yang lebih baik dan anak sulungnya bekerja sebagai kuli bangunan, dan anak bungsu menimba ilmu di pondok pesantren. Puang Conci memilih bertahan seorang diri.

Wawacara santai dengan media TCM, Ia menghidupi dirinya dengan beternak tiga ekor kambing dan menganyam atap rumbia dari daun milik orang lain, dengan sistem bagi hasil.


Penghasilan itu jauh dari kata cukup. Namun bagi Puang Conci, rezeki bukan soal angka, melainkan keyakinan. “Semua sudah diatur Allah,” begitu prinsip hidup yang ia pegang teguh.


Keterbatasan penglihatan tak membuatnya gelap dalam keyakinan. Ketika waktu salat tiba, ia berwudhu dan menunaikan kewajibannya tanpa tawar-menawar. Bahkan salat malam nyaris tak pernah ia tinggalkan. Dengan bermodalkan sebuah senter tua, ia bangun di sepertiga malam terakhir, menyorot jarum jam dari jarak sangat dekat, membaca bayangannya, lalu bersujud dalam doa-doa panjang.


Kadang, penanda waktu Subuh hanyalah kokok ayam peliharaannya. Dalam keterasingan, Puang Conci justru menemukan cahaya. Setahun terakhir, ia rutin mengikuti pengajian setiap Jumat. Ia belajar Al-Qur’an dan hadis sebagai mustami’ hanya mendengarkan, namun dengan kesungguhan yang jarang ditemui. Demi ilmu, ia berjalan kaki sejauh dua kilometer, menyusuri jalan sunyi, dengan langkah perlahan namun tekad yang kokoh.
“Umur sudah tidak muda. Hidup ini sementara. Kalau tidak ibadah, tidak ada artinya,” ujarnya lirih.


Di tengah dunia yang gaduh oleh keluhan dan tuntutan, Puang Conci berdiri sebagai cermin yang memukul kesadaran kita. Bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menyerah, dan kemiskinan bukan penghalang untuk dekat dengan Tuhan.


Kisah Puang Conci bukan sekadar cerita pilu. Ia adalah tamparan moral bagi mereka yang diberi kesehatan, kemudahan, dan kelapangan hidup, namun lalai mensyukuri.


Semoga Puang Conci senantiasa diberi perlindungan, kekuatan, dan kesehatan oleh Allah SWT. Dan semoga kita, yang hidup dengan segala kelebihan, masih punya rasa malu jika ibadah kita kalah dari seorang lelaki buta di tengah sunyi.


Tcm Muslimin/Tcm Ridho