TCM JOMBANG., (3 Februari 2026) — Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) dengan tegas menyerukan kepada pemerintah pusat agar segera menuntaskan persoalan gaji guru madrasah dan guru honorer yang hingga kini masih jauh dari kata layak. Seruan keras ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), sebagai bentuk keprihatinan mendalam atas nasib para pendidik yang terus terpinggirkan dalam sistem kesejahteraan negara.
Gus Wal menegaskan, guru madrasah dan guru honorer adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Mereka berada di garda terdepan membangun karakter, moral, dan nasionalisme generasi bangsa, namun ironisnya justru kerap diabaikan dalam kebijakan anggaran.
“Jangan sampai negara berlaku zalim terhadap mereka yang mengemban tugas mulia mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegas Gus Wal.
Pernyataan PNIB ini menguatkan desakan DPR RI, khususnya Komisi VIII, yang sebelumnya menyoroti gaji guru madrasah yang belum tuntas dibayarkan serta ketidakpastian status guru honorer yang selama ini hidup dari honor minim dan tidak manusiawi.
Menurut PNIB, sangat ironis ketika guru dengan tanggung jawab besar hanya digaji ratusan ribu rupiah per bulan, sementara tuntutan profesionalisme yang dibebankan setara dengan guru berstatus ASN. Kondisi ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan cermin ketidakadilan struktural terhadap profesi pendidik.
PNIB juga mengungkap fakta bahwa banyak guru madrasah swasta belum terdata secara menyeluruh dalam sistem resmi negara, sehingga berdampak langsung pada hilangnya hak-hak kesejahteraan mereka. Gus Wal mengkritik lambannya respons pemerintah dalam memasukkan anggaran gaji guru madrasah secara komprehensif dalam perencanaan APBN.
“Jika terus dibiarkan, ketidakjelasan ini berpotensi memicu gejolak sosial yang lebih luas,” ujar Gus Wal.
Lebih lanjut, PNIB menegaskan perlunya perlakuan setara bagi guru honorer di seluruh lembaga pendidikan, termasuk kepastian status kerja serta peluang nyata untuk diangkat sebagai PPPK atau ASN sebagai solusi jangka panjang yang adil dan berkelanjutan.
Dalam penutup pernyataannya, Gus Wal menekankan bahwa guru madrasah dan guru honorer bukan sekadar pendidik, melainkan benteng terdepan nasionalisme kebangsaan, duta moderasi beragama, dan perisai Pancasila.
Mereka selama ini berperan strategis menjaga generasi muda dari infiltrasi ideologi transnasional seperti wahabisme ekstrem, khilafah radikal, intoleransi, dan terorisme yang kini semakin masif menyasar masyarakat melalui berbagai cara, mulai dari kajian tertutup, bantuan sosial, hingga penetrasi dunia digital, media sosial, dan game daring.
“Negara wajib hadir. Kesejahteraan guru madrasah dan guru honorer adalah benteng pertahanan ideologi bangsa. Jangan biarkan mereka dibiarkan sendiri dan rentan terhadap rayuan kelompok yang merongrong keutuhan NKRI,” pungkas Gus Wal.
Tcm Gus/Tcm Sdj